Dew!LaiLi
من اراد الدّنيا فعليه با لعلم
Monday, June 30, 2014
Tugas UAS Teghnologiyah TALIM AL-LUGHAH AL-ARABIYAH
KONSEP UMUM
MEDIA PEMBELAJARAN
Dewi Nur Laili
(D02212041)
A. Pengertian
Media Pembelajaran.
Media pembelajaran adalah seperangkat
media yang dapat menyampaikan pesan atau materi sehingga dapat diterima oleh
peserta didik pada proses pembelajaran. Terminologi kata media berasal dari
bahasa latin “medium” yang artinya perantara, sedangkan dalam bahasa Arab media
berasal dari kata “Wasaaila” artinya pengantar pesan dari pengirim
kepada penerima pesan. Menurut H. Malik media pembelajaran adalah segala
sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran),
sehingga dapat menarik perhatian, minat, pikiran dan perasaan peserta didik
dalam belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.[1]
Monday, June 2, 2014
Wednesday, May 21, 2014
إنشاء الطلبي و إنشاء غير الطلبي
J
البحث
لا تطلب من
الجزاء الّا بقدر ما صنعت (غير طلبي)
احبّ لغيرك ما
تحبّ لنفسك (طلبي)
هذا لمثل إنشائيه , لانّها لا تحتمل صدقا
و لا كذبا .
قاعدة :
الإنشاء نوعان : طلبي و غير طلبي
۱ . فا لطلبي ما يستدعى مطلوبا غير حاصل وقت الطلب ,
و يكون با لأمر و الاستفهام و التّمنّى و النّداء.
٢ . و غير الطّلبي ما لا يستدعي مطلوبا
, و له صيغ كثيرة منها : التّعجّب والمدح و الغم و القسم و أفعال الرّجاء و كذالك صيغ
العقود.
Monday, April 21, 2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendapat
bahwa belajar sebagai aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
manusia, ternyata bukan hanya sebagai pendapat dari hasil renungan manusia
semata. Ajaran agama sebagai pedoman hidup manusia juga menganjurkan manusia
untuk selalu melakukan kegiatan belajar. Walaupun tidak ada ajaran agama yang
secara detail membahas tentang belajar, namun setiap ajaran agama baik secara
eksplisit maupun implisit telah menyinggung bahwa belajar adalah aktivitas yang
dapat memberikan kebaikan kepada manusia.
Aktivitas
belajar sangat terkait dengan proses pencarian ilmu. Islam sangat menekankan
terhadap pentingnya ilmu. Al-Qur’an dan Al-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk
mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang
berpengetahuan pada derajat yang tinggi.
Sejak
turunnya wahyu yang pertama kepada nabi Muhammad saw, Islam telah menekankan
perintah untuk belajar, ayat pertama juga menjadi bukti bahwa Al-quran
memandang penting balajar agar manusia dapat memahami seluruh kejadian yang ada
disekitarnya, sehingga meningkatkan rasa syukur dan mengakui akan kebesaran Allah.
Pada ayat pertama dalam surat al-A’laq terdapat kata Iqra’, dimana
melalui malaikat jibril Allah memerintahkan kepada Muhammad untuk “membaca” (iqro’).
Menurut Shihab (1997) iqra’ berasal dari akar kata yang berarti
menghimpun. Dari menghimpun inilah lahir aneka makna seperti menyampaikan,
menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan membaca baik
teks tertulis maupun tidak. Berbagai makna yang muncul dari kata iqra’ tersebut
sebenarnya secara tersirat menunjukkan perintah untuk melakukan kegiatan
belajar, karena dalam belajar juga mengandung kegiatan-kegiatan seperti
mendalami, meneliti, membaca, dan lain sebagainya.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana sumber
ilmu pengetahuan?
2.
Apa metode
belajar dalam al-Qur’an?
3.
Apa
prinsip-prinsip belajar dalam al-Qur’an?
C.
Tujuan
Pembahasan
1.
Untuk mengetahui sumber ilmu pengetahuan.
2.
Untuk memahami metode belajar dalam al-Qur’an.
3.
Untuk memhami prinsip-prinsip belajar dalam al-Qur’an.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Sumber
–Sumber Ilmu Pengetahuan
Manusia
memperoleh ilmu pengetahuan dari dua sumber utama: sumber Ilahi dan sumber
manusiawi. Kedua jenis ilmu pengetahuan ini saling melengkapi dan keduanya,
pada dasarnya, berasal dari Allah yang menciptakan manusia dan membekalinya
dengan berbagai alat dan sarana untuk bisa memahami dan memperoleh ilmu
pengetahuan. Maksud dari ilmu pengetahuan yang berasal dari sumber Ilahi ialah
jenis ilmu pengetahuan yang langsung dari Allah, baik melalui wahyu, ilham,
ataupun mimpi (ru’ya) yang benar. Sedangkan maksud ilmu pengetahuan yang
berasal dari sumber manusiawi ialah jenis ilmu pengetahuan yang dipelajari
manusia dari berbagai pengalaman pribadinya dalam kehidupan, juga dari upayanya
dalam menelaah, mengamati, dan memecahkan berbagai problem yang dihadapinya
melalui cara “trial and error”, atau lewat pendidikan dan pengajaran dan
kedua orang tuanya dan dari lembaga-lembaga pendidikan, ataupun melalui
penelitian ilmiah.[1]
Dalam
pandangan al-Qur’an ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia
unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.[2]
Hal ini tercermin dalam firman Allah:
“Dan
Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia Perlihatkan
kepada para malaikat, lalu berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda)
ini, jika kamu yang benar!”. Mereka
menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah
Engkau Ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana”.[3]
B.
Metode
Belajar dalam Al-Qur’an
1.
Peniruan (imitation)
Manusia akan
belajar banyak perilaku dan kebiasaannya pada fase awal kehidupannya dengan
cara meniru kebiasaan dan tingkahlaku kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya,
misalnya, mulai belajar bahasa dengan berusaha meniru kedua orang tuanya dan
saudara-saudaranya dalam mengucapkan kata-kata yang mereka ulang berkali-kali
di depannya. Dalam belajar berjalan, ia berusaha meniru cara menegakkan tubuh
dan menggarakkan kedua kaki yang dilakukan oleh kedua orang tua dan
saudara-saudaranya.
Al-Qur’an
sendiri telah mengemukakan contoh bagaimana manusia belajar lewat metode
meniru. Ini dikemukakan dalam kisah pembunuhan yang dilakukan Qobil terhadap
saudaranya, Habil, dan bagaimana ia tidak tahu bagaimana memperlakukan
mayat saudaranya itu. Maka Allah pun mengutus seekor burung gagak untuk
menggali-gali tanah guna menguburkan mayat saudaranya.[4]
“Kemudian Allah Mengutus
seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil)
bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata: “Aduhai,
celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga
aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang
yang menyesal”.[5]
Oleh karena
tabiat manusia cenderung untuk meniru, dan belajar banyak dari tingkah lakunya
lewat peniruan, maka teladan yang baik sangat penting dalam pendidikan dan
pengajaran. Nabi Muhammad SAW adalah
teladan yang baik bagi para sahabat. Mereka belajar dari beliau bagaimana
mereka melaksanakan
berbagai ibadah, misalnya, melihat bagaimana
beliau berwudlu, sholat, melaksanakan
haji dan lain sebagainya.[6] Al-qur’an
sendiri memerintahkan kita untuk menjadikan Rasulullah saw sebagai suri tauladan
dan panutan:
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang
banyak mengingat Allah”.[7]
2. Pengalaman Praktis dan Trial and Error
Dalam menghadapi
berbagai problem kehidupan dan upayanya untuk mengatasinya, manusia juga
belajar lewat pengalaman praktis. Dalam kehidupannya, manusia selalu menghadapi
situasi-situsi baru yang belum diketahuinya bagaimana menghadapinya dan bagaimana
harus bertindak dalam situasi
demikian, manusia memberikan respons yang
beraneka ragam. Kadang-kadanag mereka keliru dalam menghadapinya, tetapi
kadang-kadang tepat. Dengan demikian manusia belajar, lewat apa yang oleh para
ahli jiwa modern disebut dengan “trial and error”, memberikan respons
situasi-situasi baru dan mencari jalan keluar dari problem-problem yang
dihadapinya.[8]
Al-Qur’an,
dalam sebagian ayatnya, memberikan dorongan kepada manusia untuk mengadakan
perjalanan di muka bumi, mengadakan pengamatan dan memikirkan tanda-tanda
kekuasaan Allah. Nabi Muhammad SAW telah mengemukakan
tentang pentingnya belajar dari pengalaman pratis dalam kehidupan. Diriwayatkan
dari Thalhah bin Abdillah, berkata: “pada suatu hari aku bersama Rasulullah SAW
lewat didepan orang-orang yang tengah berada diatas pohon kurma. Lalu beliau
berkata, apa yang sedang mereka lakukan?”. Jawab para sahabat: “bahwa mereka
sedang mengawinkan pohon kurma dengan cara meletakkan serbuk bunga yang jantan pada bunga betina”. Rasulullah
berkata: “menurut pendapatku, tampaknya hal itu tidak ada manfaatnya.” kemudian
hal itu diberitahukan kepada orang-orang tersebut sehingga merekapun
menghentikannya. Kejadian itu saya sampaikan kepada Rasulullah SAW. Beliau pun
berkata, “jika hal itu memang bermanfaat bagi mereka, biarkanlah mereka melakukannya,
sebab itu hanya dugaanku saja dan dugaanku jangan kalian ambil. Namun jika aku
menyampaikan suatu hal dari Allah SWT kepada kalian maka terimalah, sebab aku
tidak akan berdusta atas nama Allah SWT.[9]
Dalam kisah lain dituturkan bahwa beliau bersabda: “kalian lebih tahu tentang
urusan duniawi kalian”. Mengenai jenis belajar lewat pengalaman praktis atau “trial
and error” ini, al-Qur’an mengisyaratkannya dalam ayat berikut:
“Mereka
mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan)
akhirat mereka lalai.”[10]
3.
Berpikir
Dalam
belajar, manusia juga memakai metode berpikir. Ketika seseorang sedang berpikir
dalam memecahkan suatu problem, dalam kenyataannya ia sedang melakukan “trial
and error” secara intelektual. Sebab, dalam pemikirannya ia sedang
mengusahakan berbagai jalan keluar dari problem tersebut, dan memilih jalan
keluar yang tepat. Jadi dengan berpikir, seseorang belajar membuat solusi baru
atas berbagai persoalan. Dengan berpikir, seseorang juga dapat mengungkapkan
korelasi antara berbagai objek dan peristiwa, menyimpulkan berbagai prinsip dan
teori baru, serta menemukan berbagai penemuan baru. Oleh karena itu para
psikolog menyebut proses berpikir sebagai “proses belajar tingkat tinggi”.
Diskusi,
dialog dan konsultasi para pemikir merupakan salah satu faktor yang dapat
membantu memperjelas sebuah pemikiran. Cara ini dapat mengarah pada penemuan
kebenaran serta mengantarkan pada solusi yang tepat atas permasalahan yang sedang
dikaji. Al-Qur’an sendiri memberi dorongan untuk bermusyawarah, serta
memberikan keutamaan terhadap kaum mukminin yang mengadakan musyawarah
berkaitan dengan persoalan yang mereka hadapi, dalam usaha untuk mencapai
kebenaran dan mampu mewujudkan keadilan dimasyarakat.
“Dan
(bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan
shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan
mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami Berikan kepada mereka”.[11]
Allah
sendiri meminta Rasulullah untuk bermusyawarah dengan para ahli dari kalangan
sahabat:
…وَشَا وِرْهُمْ فِى الْأَمْرِ…
“..Dan
bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan bersama”.[12]
C.
Prinsip-Prinsip Belajar dalam Al-Qur’an
Apabila kita
mempelajari metode yang dipergunakan al-Qur’an dalam mendakwahkan keyakinan
tauhid, mendidik kaum mukminin, serta menanamkan prinsip dan nilai-nilai
keislaman pada diri mereka, niscaya kita dapat menggali beberapa prinsip
penting yang berkenaan dengan proses pembelajaran yang digunakan al-Qur’an
antara lain :[13]
1.
Motivasi
Apabila
ada motivasi kuat untuk meraih tujuan tertentu terpenuhi, akan terpenuhi
pulalah kondisi-kondisi yang tepat di mana seseorang akan mencurahkan
kesungguhannya untuk mempelajari metode-metode yang tepat untuk meraih tujuan
tersebut. Al-Qur’an menggunakan metode dalam membangkitkan motivasi dengan mempergunakan janji dan ancaman (reward
and punishment), dan kisah-kisah, sebagaimana ia juga memanfaatkan
peristiwa-peristiwa kontemporer yang penting, yang membekas pada dorongan-dorongan
manusia, emosinya, dan membuatnya siap untuk mengambil pelajaran dari
peristiwa-peristiwa itu.
a)
Membangkitkan
motivasi dengan janji dan ancaman.
Kaum
muslimin dipengaruhi oleh dua motivasi kuat yaitu: pertama, harapan akan rahmat
Allah SWT yang mendorong mereka untuk melaksanakan ibadah, tugas dan semua yang
diperintahkan syariat. Dorongan itu
dipandang sebagai imbalan atau ganjaran yang menyebabkan timbulnya rasa senang,
gembira, atau puas. Kedua, takut akan azab Allah SWT yang mendorong mereka
untuk menghindari perbuatan dosa, maksiat dan semua yang dilarang syari’at,
yang menimbulkan rasa penderitaan, ketidaksenangan, dan kesengasaraan.[14]
Oleh
karena itu, al-Qur’an tidak hanya mendasarkan diri pada rasa takut atau rasa
harap saja. Tapi, ia mendasarkan diri pada paduan keduanya: rasa takut akan
azab Allah dan rasa harap akan rahmat dan pahala-Nya. Ini diuraikan al-Qur’an
dalam paparannya tentang sifat-sifat para nabi dan hamba Allah yang shalih:
“…Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan
mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang
yang khusyuk kepada Kami”.[15]
Paduan rasa takut dan rasa harap ini
mampu membangkitkan dorongan yang kuat pada diri kaum muslimin untuk
mempelajari sistem kehidupan baru yang diajarkan islam, termasuk mempelajari
metode-metode baru dalam berpikir dan bertindak.
b)
Membangkitkan
motivasi dengan cerita.
Cerita
telah menjadi sarana penting yang digunakan al-Qur’an untuk membangkitkan
motivasi belajar, sebab cerita dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan
pemusatan perhatian para pendengarannya untuk mengikuti berbagai peristiwa yang
dituturkan di dalamnya. Melalui cerita-cerita al-Qur’an berusaha menanamkan
tujuan-tujuan keagamaan yang berkenaan dengan aqidah, suri tauladan, atau hukum
yang hendak diajarkannya kepada manusia:
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka
itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal…”[16]
c)
Memanfaatkan
peristiwa-peristiwa penting.
Faktor
yang membantu membangkitkan motivasi dan perhatian adalah terjadinya beberapa
peristiwa atas masalah penting yang menggetarkan emosi manusia, menimbulkan
perhatiannya, dan membuat sibuk pikirannya. Pada umumnya, manusia terpengaruh
oleh peristiwa-peristiwa penting yang menimpa dan karenanya mereka siap untuk
mengambil pelajaran yang terkandung dalam suatu peristiwa.
Al-Qur’an
sendiri telah mempergunakan peristiwa-peristiwa penting yang dialami kaum
Muslimin, untuk mengajari mereka sebagian suri tauladan yang berguna dalam
kehidupan mereka. Contoh: peristiwa perang hunain. Ketika itu, kaum Muslimin
begitu terkesan akan banyak dan kuatnya tentara mereka, merekapun yakin bahwa
mereka akan menang atas orang-orang kafir, dan lupa bahwa kemenangan ada di
tangan Allah. Karena itu Allah berkehendak member pelajaran pada kaum Muslimin
bahwa jumlah banyak tidak selalu akan menang. Allahlah yang menentukan kemenangan bagi
hamban-Nya yang jiwa mereka dipenuhi dengan iman dan takwa, sekalipun jumlah
mereka lebih sedikit.[17]
“Sungguh, Allah telah Menolong kamu
(Mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika
jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama
sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu,
kemudian kamu berbalik ke belakang dengan cerai- berai. Kemudian Allah
Menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan
Dia Menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia
Menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang
kafir. [18]
2.
Pengulangan
Penyampaian pandangan dan pikiran secara
berulang-ulang kepada seseorang biasanya membuat mapan dan terpancang kuatnya
pendapat dan pikiran itu dalam benaknya. Kajian-kajian yang dilakukan oleh para
ahli jiwa modern membuktikan pentingnya pengulangan dalam proses belajar.
Dalam al-Qur’an, kita menemukan
pengulangan mengenai beberapa kebenaran berkaitan dengan akidah dan
perkara-perkara ghaib, yang dapat diluluhkan al-Qur’an kuat-kuat dalam hati
manusia. Misalnya aqidah tauhid, bahwa Allah sajalah sumber semua agama, dan
keimanan akan hari kebangkitan, hari akhir, hisab, pahala, dan azab dalam
kehidupan akhirat. Contoh dalam surat Hud, seruan untuk mentauhidkan dan
menyembah Allah diulang empat kali. Dalam surat ini, al-Qur’an mengemukakan apa
yang diucapkan nabi-nabi dahulu pada
kaumnya, ketika mereka menyeru kaumnya kepada aqidah tauhid. Pertama-tama
al-Qur’an mengemukakan ucapan Nabi Nuh as kepada kaumnya:
“Dan
sesungguhnya, Kami telah Mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), “Sungguh,
aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagimu, agar kamu tidak menyembah
selain Allah…”.[19]
3.
Perhatian
Perhatian merupakan salah satu faktor
penting dalam belajar. Apabila seorang mahasiswa tidak menaruh perhatian pada
suatu mata kuliah misalnya, maka sulit baginya untuk memahami informasi-informasi
yang disampaikan oleh mata kuliah tersebut. Oleh karena itu, para pendidik dan
pengajar selalu berusaha untuk membangkitkan perhatian murid-murid agar mereka
bisa menyerap, memahami, dan mempelajari pelajaran yang diberikan. Penggunaan kisah
al-Qur’an, seperti telah dikemukakan di muka, merupakan salah satu faktor
penting dalam membangkitkan perhatian pada anjuran, suri tauladan, dan seruan
pada aqidah tauhid yang terkandung di dalamnya. Pentingnya perhatian dalam
menyerap informasi ditekankan al-Qur’an dalam fiman-Nya:
“Sesungguhnya pada yang demikian itu
pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang
menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”.[20]
4.
Partisipasi Aktif
Keterampilan
motorik mengharuskan siswa melakukan ketrampilan tersebut secara
sungguh-sungguh serta mempraktekkan keahlian itu hingga mahir. Praktek tidak
hanya penting dalam mempelajari keahlian
yang bercorak gerakan saja, tetapi juga dalam mempelajari ilmu-ilmu
teoritis yaitu dalam mempelajari akhlak, keutamaan, nilai-nilai dan etika
bermasyarakat.[21] Sebab,
dengan melaksanakan apa yang dipelajari, ini akan mempercepat seseorang dalam
mempelajari dan menguasainya.
Penerapan prinsip partisipasi aktif ini
bisa kita temukan dalam al-Qur’an. Ini tampak jelas dari metode yang dipakai
al-Qur’an dalam mengajar kaum muslimin kualitas-kualitas kejiwaan yang terpuji
dan moral serta kebiasaan tingkahlaku yang luhur, lewat latihan dan praktik
berbagai ibadah yang diwajibkan atas mereka. Wudlu dan melaksankan sholat pada
waktu-waktu tertentu setiap hari mengajari kaum Muslimin kebersihan, ketaatan,
keteraturan, kesabaran dan ketangguhan. Puasa juga mengajari mereka ketaatan
dan kesabaran dalam menanggung kesulitan, dan bersikap belas kasih pada orang
miskin.
5.
Pembagian belajar
Beberapa studi eksperimen yang diadakan
para psikolog modern mengungkapkan bahwa belajar yang dihasilkan dengan
menggunakan metode pembagian itu lebih utama daripada belajar yang dihasilkan
dengan metode pemusatan, yaitu metode belajar yang berlangsung dalam rentang
waktu yang bersambungan tanpa diselingi waktu istirahat. Prinsip ini sudah
diterapkan dalam al-Qur’an, sebab al-Qur’an diturunkan dalam sela waktu yang
berjauhan dan dalam masa yang cukup lama, yaitu sekitar 23 tahun. Hal ini
dimaksudkan agar manusia dapat mempelajari Al-Qur’an dengan tenang dan dapat
memahami isi yang terkandung di dalamnya. Jika Al-Qur’an diturunkan sekaligus,
niscaya sulit untuk mempelajari serta memahami makna dan tujuan Al-Qur’an.
“Dan al-Quran (Kami Turunkan)
berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia
perlahan-lahan dan Kami Menurunkannya secara bertahap”.[22]
6.
Perubahan
perilaku secara bertahap
Melepaskan beberapa kebiasaan buruk
yang sudah mengakar sekian lama sehingga kebiasaan buruk itu mendarah daging
dalam perilaku kita merupakan hal yang sulit bagi kebanyakan orang. Sebab, hal
itu membutuhkan kemauan kuat, usaha yang besar dan latihan yang panjang. Oleh
sebab itu, cara yang paling baik untuk melepaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan
buruk yang dominan adalah dengan cara bertahap. Dalam memperbaiki
kebiasaan-kebiasaan buruk, islam memakai dua metode :
a)
Metode
pertama: menagguhkan perbaikan
kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut sampai keimanan benar-benar menguat dalam
kalbu kaum Muslimin. Iman yang sudah kuat dan mapan akan memungkinankannya untuk digunakan
sebagai dorongan kuat untuk menggampangkan proses melepaskan diri dari
kebiasaan buruk yang dominan dan mempelajari kebiasaan-kebiasaan baru sebagai
pengganti daripadanya.[23]
b)
Metode
kedua: yang dipergunakan al-Qur’an dalam
memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk adalah melatih kesiapan mental kaum
muslimin untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut. Ini dilakukan
dengan jalan membentuk respons yang berlawanan secara bertahap dengan respons yang
dituntut untuk dilepaskan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Manusia
memperoleh ilmu pengetahuan dari dua sumber utama: sumber Ilahi dan sumber
manusiawi. Kedua jenis ilmu pengetahuan ini saling melengkapi dan keduanya,
pada dasarnya, berasal dari Allah yang menciptakan manusia dan membekalinya
dengan berbagai alat dan sarana untuk bisa memahami dan memperoleh ilmu pengetahuan.
2.
Macam-macam
metode belajar dalam al-Qur’an,
antara lain: 1) peniruan, 2) Pengalaman Praktis dan Trial and Error, dan 3)
berpikir.
3.
beberapa
prinsip penting yang berkenaan dengan proses pembelajaran yang digunakan al-Qur’an
antara lain: 1) motivasi, 2) pengulangan, 3) perhatian, 4) partisipasi aktif,
5) pembagian balajar, dan 6) perubahan perilaku secara bertahap.
B.
Kritik dan
Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh
sebab itu penulis mengaharapkan kritik dan saran dari seluruh pembaca agar
penulis dapat menciptakan karya yang jauh lebih baik. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca dan penulis.
[4] Ustman
Najati, Al-Quran dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1985), hlm,
175.
[6] http://dhexnindiey.blogspot.com/2012/04/artikel.html,
diakses pada tanggal 31 oktober 2013, pukul 20.00 WIB.
[9] http://dhexnindiey.blogspot.com/2012/04/artikel.html,
diakses pada tanggal 31 oktober 2013, pukul 20.00 WIB.
[13] http://dhexnindiey.blogspot.com/2012/04/artikel.html, diakses pada tanggal
31 oktober 2013, pukul 20.00 WIB.
[21] http://dhexnindiey.blogspot.com/2012/04/artikel.html, diakses pada tanggal
31 oktober 2013, pukul 20.00 WIB.
Subscribe to:
Comments (Atom)