Monday, June 30, 2014

PPT KONSEP UMUM MEDIA PEMBELAJARAN

Tugas UAS Teghnologiyah TALIM AL-LUGHAH AL-ARABIYAH

KONSEP UMUM MEDIA PEMBELAJARAN
Dewi Nur Laili (D02212041)
    A. Pengertian Media Pembelajaran.
Media pembelajaran adalah seperangkat media yang dapat menyampaikan pesan atau materi sehingga dapat diterima oleh peserta didik pada proses pembelajaran. Terminologi kata media berasal dari bahasa latin “medium” yang artinya perantara, sedangkan dalam bahasa Arab media berasal dari kata “Wasaaila” artinya pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Menurut H. Malik media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat menarik perhatian, minat, pikiran dan perasaan peserta didik dalam belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.[1]

Wednesday, May 21, 2014

إنشاء الطلبي و إنشاء غير الطلبي



J  
البحث
لا تطلب من الجزاء الّا بقدر ما صنعت (غير طلبي)
احبّ لغيرك ما تحبّ لنفسك (طلبي)
هذا لمثل إنشائيه , لانّها لا تحتمل صدقا و لا كذبا .
قاعدة :
الإنشاء نوعان : طلبي و غير طلبي
۱ .  فا لطلبي ما يستدعى مطلوبا غير حاصل وقت الطلب , و يكون با لأمر و الاستفهام و التّمنّى و النّداء.
٢ . و غير الطّلبي ما لا يستدعي مطلوبا , و له صيغ كثيرة منها : التّعجّب والمدح و الغم و القسم و أفعال الرّجاء و كذالك صيغ العقود.

Monday, April 21, 2014


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendapat bahwa belajar sebagai aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, ternyata bukan hanya sebagai pendapat dari hasil renungan manusia semata. Ajaran agama sebagai pedoman hidup manusia juga menganjurkan manusia untuk selalu melakukan kegiatan belajar. Walaupun tidak ada ajaran agama yang secara detail membahas tentang belajar, namun setiap ajaran agama baik secara eksplisit maupun implisit telah menyinggung bahwa belajar adalah aktivitas yang dapat memberikan kebaikan kepada manusia.
Aktivitas belajar sangat terkait dengan proses pencarian ilmu. Islam sangat menekankan terhadap pentingnya ilmu. Al-Qur’an dan Al-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi.
Sejak turunnya wahyu yang pertama kepada nabi Muhammad saw, Islam telah menekankan perintah untuk belajar, ayat pertama juga menjadi bukti bahwa Al-quran memandang penting balajar agar manusia dapat memahami seluruh kejadian yang ada disekitarnya, sehingga meningkatkan rasa syukur dan mengakui akan kebesaran Allah. Pada ayat pertama dalam surat al-A’laq terdapat kata Iqra’, dimana melalui malaikat jibril Allah memerintahkan kepada Muhammad untuk “membaca” (iqro’). Menurut Shihab (1997) iqra’ berasal dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun inilah lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak. Berbagai makna yang muncul dari kata iqra’ tersebut sebenarnya secara tersirat menunjukkan perintah untuk melakukan kegiatan belajar, karena dalam belajar juga mengandung kegiatan-kegiatan seperti mendalami, meneliti, membaca, dan lain sebagainya.


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sumber ilmu pengetahuan?
2.      Apa metode belajar dalam al-Qur’an?
3.      Apa prinsip-prinsip belajar dalam al-Qur’an?

C.    Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui sumber ilmu pengetahuan.
2.      Untuk memahami metode belajar dalam al-Qur’an.
3.      Untuk memhami prinsip-prinsip belajar dalam al-Qur’an.

 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sumber –Sumber Ilmu Pengetahuan
Manusia memperoleh ilmu pengetahuan dari dua sumber utama: sumber Ilahi dan sumber manusiawi. Kedua jenis ilmu pengetahuan ini saling melengkapi dan keduanya, pada dasarnya, berasal dari Allah yang menciptakan manusia dan membekalinya dengan berbagai alat dan sarana untuk bisa memahami dan memperoleh ilmu pengetahuan. Maksud dari ilmu pengetahuan yang berasal dari sumber Ilahi ialah jenis ilmu pengetahuan yang langsung dari Allah, baik melalui wahyu, ilham, ataupun mimpi (ru’ya) yang benar. Sedangkan maksud ilmu pengetahuan yang berasal dari sumber manusiawi ialah jenis ilmu pengetahuan yang dipelajari manusia dari berbagai pengalaman pribadinya dalam kehidupan, juga dari upayanya dalam menelaah, mengamati, dan memecahkan berbagai problem yang dihadapinya melalui cara “trial and error”, atau lewat pendidikan dan pengajaran dan kedua orang tuanya dan dari lembaga-lembaga pendidikan, ataupun melalui penelitian ilmiah.[1]
Dalam pandangan al-Qur’an ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.[2] Hal ini tercermin dalam firman Allah:
 
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia Perlihatkan kepada para malaikat, lalu berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”.  Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau Ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana”.[3]
B.     Metode Belajar dalam Al-Qur’an
1. Peniruan (imitation)
Manusia akan belajar banyak perilaku dan kebiasaannya pada fase awal kehidupannya dengan cara meniru kebiasaan dan tingkahlaku kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya, misalnya, mulai belajar bahasa dengan berusaha meniru kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya dalam mengucapkan kata-kata yang mereka ulang berkali-kali di depannya. Dalam belajar berjalan, ia berusaha meniru cara menegakkan tubuh dan menggarakkan kedua kaki yang dilakukan oleh kedua orang tua dan saudara-saudaranya.
Al-Qur’an sendiri telah mengemukakan contoh bagaimana manusia belajar lewat metode meniru. Ini dikemukakan dalam kisah pembunuhan yang dilakukan Qobil terhadap saudaranya, Habil, dan bagaimana ia tidak tahu bagaimana memperlakukan mayat saudaranya itu. Maka Allah pun mengutus seekor burung gagak untuk menggali-gali tanah guna menguburkan mayat saudaranya.[4]
                        “Kemudian Allah Mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata: “Aduhai, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal”.[5]
                                    Oleh karena tabiat manusia cenderung untuk meniru, dan belajar banyak dari tingkah lakunya lewat peniruan, maka teladan yang baik sangat penting dalam pendidikan dan pengajaran.  Nabi Muhammad SAW adalah teladan yang baik bagi para sahabat. Mereka belajar dari beliau bagaimana mereka melaksanakan berbagai ibadah, misalnya,  melihat bagaimana beliau berwudlu, sholat, melaksanakan haji dan lain sebagainya.[6] Al-qur’an sendiri memerintahkan kita untuk menjadikan Rasulullah saw sebagai suri tauladan dan panutan:

                        “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”.[7]
2. Pengalaman Praktis dan Trial and Error
                                    Dalam menghadapi berbagai problem kehidupan dan upayanya untuk mengatasinya, manusia juga belajar lewat pengalaman praktis. Dalam kehidupannya, manusia selalu menghadapi situasi-situsi baru yang belum diketahuinya bagaimana menghadapinya dan bagaimana harus bertindak dalam situasi demikian, manusia memberikan respons yang beraneka ragam. Kadang-kadanag mereka keliru dalam menghadapinya, tetapi kadang-kadang tepat. Dengan demikian manusia belajar, lewat apa yang oleh para ahli jiwa modern disebut dengan “trial and error”, memberikan respons situasi-situasi baru dan mencari jalan keluar dari problem-problem yang dihadapinya.[8]
Al-Qur’an, dalam sebagian ayatnya, memberikan dorongan kepada manusia untuk mengadakan perjalanan di muka bumi, mengadakan pengamatan dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Nabi Muhammad SAW telah mengemukakan tentang pentingnya belajar dari pengalaman pratis dalam kehidupan. Diriwayatkan dari Thalhah bin Abdillah, berkata: “pada suatu hari aku bersama Rasulullah SAW lewat didepan orang-orang yang tengah berada diatas pohon kurma. Lalu beliau berkata, apa yang sedang mereka lakukan?”. Jawab para sahabat: “bahwa mereka sedang mengawinkan pohon kurma dengan cara meletakkan serbuk bunga  yang jantan pada bunga betina”. Rasulullah berkata: “menurut pendapatku, tampaknya hal itu tidak ada manfaatnya.” kemudian hal itu diberitahukan kepada orang-orang tersebut sehingga merekapun menghentikannya. Kejadian itu saya sampaikan kepada Rasulullah SAW. Beliau pun berkata, “jika hal itu memang bermanfaat bagi mereka, biarkanlah mereka melakukannya, sebab itu hanya dugaanku saja dan dugaanku jangan kalian ambil. Namun jika aku menyampaikan suatu hal dari Allah SWT kepada kalian maka terimalah, sebab aku tidak akan berdusta atas nama Allah SWT.[9] Dalam kisah lain dituturkan bahwa beliau bersabda: “kalian lebih tahu tentang urusan duniawi kalian”. Mengenai jenis belajar lewat pengalaman praktis atau “trial and error” ini, al-Qur’an mengisyaratkannya dalam ayat berikut:
“Mereka mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”[10]
3. Berpikir
Dalam belajar, manusia juga memakai metode berpikir. Ketika seseorang sedang berpikir dalam memecahkan suatu problem, dalam kenyataannya ia sedang melakukan “trial and error” secara intelektual. Sebab, dalam pemikirannya ia sedang mengusahakan berbagai jalan keluar dari problem tersebut, dan memilih jalan keluar yang tepat. Jadi dengan berpikir, seseorang belajar membuat solusi baru atas berbagai persoalan. Dengan berpikir, seseorang juga dapat mengungkapkan korelasi antara berbagai objek dan peristiwa, menyimpulkan berbagai prinsip dan teori baru, serta menemukan berbagai penemuan baru. Oleh karena itu para psikolog menyebut proses berpikir sebagai “proses belajar tingkat tinggi”.
Diskusi, dialog dan konsultasi para pemikir merupakan salah satu faktor yang dapat membantu memperjelas sebuah pemikiran. Cara ini dapat mengarah pada penemuan kebenaran serta mengantarkan pada solusi yang tepat atas permasalahan yang sedang dikaji. Al-Qur’an sendiri memberi dorongan untuk bermusyawarah, serta memberikan keutamaan terhadap kaum mukminin yang mengadakan musyawarah berkaitan dengan persoalan yang mereka hadapi, dalam usaha untuk mencapai kebenaran dan mampu mewujudkan keadilan dimasyarakat.
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami Berikan kepada mereka”.[11]
Allah sendiri meminta Rasulullah untuk bermusyawarah dengan para ahli dari kalangan sahabat:
وَشَا وِرْهُمْ فِى الْأَمْرِ
                                    “..Dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan bersama”.[12]
C.    Prinsip-Prinsip Belajar dalam Al-Qur’an
Apabila kita mempelajari metode yang dipergunakan al-Qur’an dalam mendakwahkan keyakinan tauhid, mendidik kaum mukminin, serta menanamkan prinsip dan nilai-nilai keislaman pada diri mereka, niscaya kita dapat menggali beberapa prinsip penting yang berkenaan dengan proses pembelajaran yang digunakan al-Qur’an antara lain :[13]
1.       Motivasi
Apabila ada motivasi kuat untuk meraih tujuan tertentu terpenuhi, akan terpenuhi pulalah kondisi-kondisi yang tepat di mana seseorang akan mencurahkan kesungguhannya untuk mempelajari metode-metode yang tepat untuk meraih tujuan tersebut. Al-Qur’an menggunakan metode dalam membangkitkan motivasi  dengan mempergunakan janji dan ancaman (reward and punishment), dan kisah-kisah, sebagaimana ia juga memanfaatkan peristiwa-peristiwa kontemporer yang penting, yang membekas pada dorongan-dorongan manusia, emosinya, dan membuatnya siap untuk mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa itu.
a)      Membangkitkan motivasi dengan janji dan ancaman.
Kaum muslimin dipengaruhi oleh dua motivasi kuat yaitu: pertama, harapan akan rahmat Allah SWT yang mendorong mereka untuk melaksanakan ibadah, tugas dan semua yang diperintahkan syariat.  Dorongan itu dipandang sebagai imbalan atau ganjaran yang menyebabkan timbulnya rasa senang, gembira, atau puas. Kedua, takut akan azab Allah SWT yang mendorong mereka untuk menghindari perbuatan dosa, maksiat dan semua yang dilarang syari’at, yang menimbulkan rasa penderitaan, ketidaksenangan, dan kesengasaraan.[14]
Oleh karena itu, al-Qur’an tidak hanya mendasarkan diri pada rasa takut atau rasa harap saja. Tapi, ia mendasarkan diri pada paduan keduanya: rasa takut akan azab Allah dan rasa harap akan rahmat dan pahala-Nya. Ini diuraikan al-Qur’an dalam paparannya tentang sifat-sifat para nabi dan hamba Allah yang shalih:
 “…Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami”.[15]
Paduan rasa takut dan rasa harap ini mampu membangkitkan dorongan yang kuat pada diri kaum muslimin untuk mempelajari sistem kehidupan baru yang diajarkan islam, termasuk mempelajari metode-metode baru dalam berpikir dan bertindak.
b)      Membangkitkan motivasi dengan cerita.
Cerita telah menjadi sarana penting yang digunakan al-Qur’an untuk membangkitkan motivasi belajar, sebab cerita dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan pemusatan perhatian para pendengarannya untuk mengikuti berbagai peristiwa yang dituturkan di dalamnya. Melalui cerita-cerita al-Qur’an berusaha menanamkan tujuan-tujuan keagamaan yang berkenaan dengan aqidah, suri tauladan, atau hukum yang hendak diajarkannya kepada manusia:

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal…”[16]
c)      Memanfaatkan peristiwa-peristiwa penting.
Faktor yang membantu membangkitkan motivasi dan perhatian adalah terjadinya beberapa peristiwa atas masalah penting yang menggetarkan emosi manusia, menimbulkan perhatiannya, dan membuat sibuk pikirannya. Pada umumnya, manusia terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa penting yang menimpa dan karenanya mereka siap untuk mengambil pelajaran yang terkandung dalam suatu peristiwa.
Al-Qur’an sendiri telah mempergunakan peristiwa-peristiwa penting yang dialami kaum Muslimin, untuk mengajari mereka sebagian suri tauladan yang berguna dalam kehidupan mereka. Contoh: peristiwa perang hunain. Ketika itu, kaum Muslimin begitu terkesan akan banyak dan kuatnya tentara mereka, merekapun yakin bahwa mereka akan menang atas orang-orang kafir, dan lupa bahwa kemenangan ada di tangan Allah. Karena itu Allah berkehendak member pelajaran pada kaum Muslimin bahwa jumlah banyak tidak selalu akan menang. Allahlah yang menentukan kemenangan bagi hamban-Nya yang jiwa mereka dipenuhi dengan iman dan takwa, sekalipun jumlah mereka lebih sedikit.[17]
“Sungguh, Allah telah Menolong kamu (Mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dengan cerai- berai. Kemudian Allah Menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Dia Menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia Menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. [18]
2.      Pengulangan
Penyampaian pandangan dan pikiran secara berulang-ulang kepada seseorang biasanya membuat mapan dan terpancang kuatnya pendapat dan pikiran itu dalam benaknya. Kajian-kajian yang dilakukan oleh para ahli jiwa modern membuktikan pentingnya pengulangan dalam proses belajar.
Dalam al-Qur’an, kita menemukan pengulangan mengenai beberapa kebenaran berkaitan dengan akidah dan perkara-perkara ghaib, yang dapat diluluhkan al-Qur’an kuat-kuat dalam hati manusia. Misalnya aqidah tauhid, bahwa Allah sajalah sumber semua agama, dan keimanan akan hari kebangkitan, hari akhir, hisab, pahala, dan azab dalam kehidupan akhirat. Contoh dalam surat Hud, seruan untuk mentauhidkan dan menyembah Allah diulang empat kali. Dalam surat ini, al-Qur’an mengemukakan apa yang diucapkan  nabi-nabi dahulu pada kaumnya, ketika mereka menyeru kaumnya kepada aqidah tauhid. Pertama-tama al-Qur’an mengemukakan ucapan Nabi Nuh as kepada kaumnya:
Dan sesungguhnya, Kami telah Mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), “Sungguh, aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagimu, agar kamu tidak menyembah selain Allah…”.[19]
3.      Perhatian
Perhatian merupakan salah satu faktor penting dalam belajar. Apabila seorang mahasiswa tidak menaruh perhatian pada suatu mata kuliah misalnya, maka sulit baginya untuk memahami informasi-informasi yang disampaikan oleh mata kuliah tersebut. Oleh karena itu, para pendidik dan pengajar selalu berusaha untuk membangkitkan perhatian murid-murid agar mereka bisa menyerap, memahami, dan mempelajari pelajaran yang diberikan. Penggunaan kisah al-Qur’an, seperti telah dikemukakan di muka, merupakan salah satu faktor penting dalam membangkitkan perhatian pada anjuran, suri tauladan, dan seruan pada aqidah tauhid yang terkandung di dalamnya. Pentingnya perhatian dalam menyerap informasi ditekankan al-Qur’an dalam fiman-Nya:
 
“Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”.[20]
4.      Partisipasi Aktif
Keterampilan motorik mengharuskan siswa melakukan ketrampilan tersebut secara sungguh-sungguh serta mempraktekkan keahlian itu hingga mahir. Praktek tidak hanya penting dalam mempelajari keahlian  yang bercorak gerakan saja, tetapi juga dalam mempelajari ilmu-ilmu teoritis yaitu dalam mempelajari akhlak, keutamaan, nilai-nilai dan etika bermasyarakat.[21] Sebab, dengan melaksanakan apa yang dipelajari, ini akan mempercepat seseorang dalam mempelajari dan menguasainya.
Penerapan prinsip partisipasi aktif ini bisa kita temukan dalam al-Qur’an. Ini tampak jelas dari metode yang dipakai al-Qur’an dalam mengajar kaum muslimin kualitas-kualitas kejiwaan yang terpuji dan moral serta kebiasaan tingkahlaku yang luhur, lewat latihan dan praktik berbagai ibadah yang diwajibkan atas mereka. Wudlu dan melaksankan sholat pada waktu-waktu tertentu setiap hari mengajari kaum Muslimin kebersihan, ketaatan, keteraturan, kesabaran dan ketangguhan. Puasa juga mengajari mereka ketaatan dan kesabaran dalam menanggung kesulitan, dan bersikap belas kasih pada orang miskin.
5.      Pembagian belajar
Beberapa studi eksperimen yang diadakan para psikolog modern mengungkapkan bahwa belajar yang dihasilkan dengan menggunakan metode pembagian itu lebih utama daripada belajar yang dihasilkan dengan metode pemusatan, yaitu metode belajar yang berlangsung dalam rentang waktu yang bersambungan tanpa diselingi waktu istirahat. Prinsip ini sudah diterapkan dalam al-Qur’an, sebab al-Qur’an diturunkan dalam sela waktu yang berjauhan dan dalam masa yang cukup lama, yaitu sekitar 23 tahun. Hal ini dimaksudkan agar manusia dapat mempelajari Al-Qur’an dengan tenang dan dapat memahami isi yang terkandung di dalamnya. Jika Al-Qur’an diturunkan sekaligus, niscaya sulit untuk mempelajari serta memahami makna dan tujuan Al-Qur’an.
       “Dan al-Quran (Kami Turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami Menurunkannya secara bertahap”.[22]
6.      Perubahan perilaku secara bertahap
        Melepaskan beberapa kebiasaan buruk yang sudah mengakar sekian lama sehingga kebiasaan buruk itu mendarah daging dalam perilaku kita merupakan hal yang sulit bagi kebanyakan orang. Sebab, hal itu membutuhkan kemauan kuat, usaha yang besar dan latihan yang panjang. Oleh sebab itu, cara yang paling baik untuk melepaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang dominan adalah dengan cara bertahap. Dalam memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk, islam memakai dua metode :
a)      Metode pertama: menagguhkan perbaikan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut sampai keimanan benar-benar menguat dalam kalbu kaum Muslimin. Iman yang sudah kuat dan mapan  akan memungkinankannya untuk digunakan sebagai dorongan kuat untuk menggampangkan proses melepaskan diri dari kebiasaan buruk yang dominan dan mempelajari kebiasaan-kebiasaan baru sebagai pengganti daripadanya.[23]
b)      Metode kedua: yang dipergunakan al-Qur’an dalam memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk adalah melatih kesiapan mental kaum muslimin untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut. Ini dilakukan dengan jalan membentuk respons yang berlawanan secara bertahap dengan respons yang dituntut untuk dilepaskan. 

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Manusia memperoleh ilmu pengetahuan dari dua sumber utama: sumber Ilahi dan sumber manusiawi. Kedua jenis ilmu pengetahuan ini saling melengkapi dan keduanya, pada dasarnya, berasal dari Allah yang menciptakan manusia dan membekalinya dengan berbagai alat dan sarana untuk bisa memahami dan memperoleh ilmu pengetahuan.
2.      Macam-macam metode belajar dalam al-Qur’an, antara lain: 1) peniruan, 2) Pengalaman Praktis dan Trial and Error, dan 3) berpikir.
3.      beberapa prinsip penting yang berkenaan dengan proses pembelajaran yang digunakan al-Qur’an antara lain: 1) motivasi, 2) pengulangan, 3) perhatian, 4) partisipasi aktif, 5) pembagian balajar, dan 6) perubahan perilaku secara bertahap.

B.     Kritik dan Saran
            Penulis menyadari bahwa  makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengaharapkan kritik dan saran dari seluruh pembaca agar penulis dapat menciptakan karya yang jauh lebih baik. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis.


[1] Ustman Najati, Al-Quran dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1985), hlm, 169.
[2] Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi, (Yogyakarta: TERAS, 2008), hlm, 67.
[3] QS. Al-Baqarah, 2: 31-32.
[4] Ustman Najati, Al-Quran dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1985), hlm, 175.
[5] QS, al-Maidah, 5: 31.
[6] http://dhexnindiey.blogspot.com/2012/04/artikel.html, diakses pada tanggal 31 oktober 2013, pukul 20.00 WIB.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               
[7] QS, al-Ahzab, 33: 21.
[8] Ustman Najati, Al-Quran dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1985), hlm, 177-166.
[9] http://dhexnindiey.blogspot.com/2012/04/artikel.html, diakses pada tanggal 31 oktober 2013, pukul 20.00 WIB.
[10] QS, ar-Rum, 30: 7.
[11] QS, asy-Syura, 42: 38.
[12] QS, Ali-Imran, 3: 159.
[13] http://dhexnindiey.blogspot.com/2012/04/artikel.html, diakses pada tanggal 31 oktober 2013, pukul 20.00 WIB.
[14] Ustman Najati, Al-Quran dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1985), hlm, 182-183.
[15] QS. al-Anbiya’, 21: 90.
[16] QS. Yunus, 12: 111.
[17] Ustman Najati, Al-Quran dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1985), hlm, 191.
[18] QS, at-Taubah, 9: 25-26.
[19] QS, Hud, 11: 25-26.
[20] QS. Qaf, 50: 37.
[21] http://dhexnindiey.blogspot.com/2012/04/artikel.html, diakses pada tanggal 31 oktober 2013, pukul 20.00 WIB.
[22] QS. Al-Isra’, 17: 106.
[23] Ustman Najati, Al-Quran dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1985), hlm, 206.